Cerita Mesum Menikmati Kesenangan Dengan Penjaga Kantin




https://ceritadewasahotmantap.blogspot.com/2018/07/cerita-mesum-menikmati-kesenangan-dengan-penjaga-kantin.html

DUNIA121







Perkenalkan Nama Saya Rizki kelas 3 SMA, umur 18 tahun termasuk anak yang pintar. Dalam kelas yang berjumlah hanya 25 orang itu ia masuk 10 besar. Jika kebanyakan siswa yang masuk jurusan Fisika dianggap lugu, kutu buku, tiap hari hanya berhitung, dan menghafal rumus, lain halnya dengan rizki. Ia memang hobby menulis, membaca, dan mengerjakn soal-soal Fisika dan Matematika, tetapi ia juga suka main musik, main bola, dan sekali-kali bolos. rizki tidak pernah takut mengerjakan sesuatu atau terlibat dalam urusan-urusan yang tidak pernah masuk dalam kamus anak Fisika atau anak eksakta lainnya.


Dalam 1 bulan ia selalu menghiasi hari-harinya dengan bolos 1 hari dari sekolah. Tetapi ia tidak pernah membayangkan akan mengalami peristiwa yang akan susah dilupakannya seumur hidup.


Pada hari jumat. Siswa-siswa di salah satu SMA Negeri di Bekasi memakai seragam pramuka. Seusai jam sekolah, biasanya siswa-siswa yang ambil bagian dalam kegiatan pramuka akan pulang belakangan. Sekitar jam 16:00. Sebelum kegiatan pramuka dimulai siswa-siswa akan saling bercengkrama, ngumpul, ngrumpi, atau bermain bola. rizki juga ikut kegiatan pramuka. Ia berkumpul dengan teman-temannya bercerita yang lucu-lucu, jorok-jorok, dan lain-lain. rizki selalu membaur. Tidak melulu berteman dengan anak-anak eksakta. Ia juga memilki banyak teman dari ilmu-ilmu sosial, (jaman tahun 80-90-an dulu disebut anak SOS).


Pada saat berkumpul dengan anak sos inilah awal mula kejadiannya. Teman-temannya anak-anak sos bersepakat bahwa nanti setelah kegaitan pramuka mereka akan mencegat anak-anak STM, yang juga berlokasi di Bekasi, yang biasa lewat di jalan dekat sekolah mereka. SMA Negeri di mana rizki bersekolah terletak di salah satu lokasi dekat dengan perumahan di Bekasi. Juga berbatasan langsung dengan sejenis persawahan atau kebun dan rumah-rumah penduduk lainnya. Sekolah mereka dikelilingi tembok setinggi 2,5 meter, kecuali di bagian depan sekolah yang hanya dipagari setingi 1 meter.



Singkat cerita, ketika kegiatan pramuka usai anak-anak sos telah berkumpul di sebuah kedai di pinngir jalan dekat sekolah mereka sambil merokok. Mereka menunggu anak-anak STM tertentu yang biasa lewat di situ. rizki juga ikut nimbrung untuk melihat apa yang bakal terjadi… Ketika rizki duduk sambil membaca buku pelajarannya sekonyong-konyong ia mendengar teriakan-teriakan dan bentakan-berantakan. Ketika ia menoleh ternyata telah terjadi keributan (tawuran) antara anak-anak sos sekolah mereka dengan anakanak STM. rizki berdiri tegang menyaksikan batu dan kayu beterbangan. Ia melihat ada anak STM yang terjatuh dan dikeroyok oleh empat orang.


Tetapi tiba-tiba ia heran karena anak sos sekolah mereka lari berhamburan padahal jumlah mereka lebih banyak. Ia heran dan menuju jalan….Ternyata tidak berapa jauh diujung jalan sekelompok anak STM belarian mendatangi lokasi tawuran…Ia maih sempat melihat seorang temannya anak sos yang lari kencang terjatuh karena punggungya terlempar batu…tetapi masih juga bisa bangun dan lari lagi.


Tiba-tiba seorang anak STM menunjuknya dengan marah… Ia panik… dan tanpa pikir panjang rizki pun lari… Ia dikejar oleh hampir sepuluh orang…rizki tak memperdulikan lagi bukunya yang berceceran… Yang ada di otaknya adalah menyelamatkan diri… Ia berlari kea rah sekolah… Di belakang anak2 STM masih mengejar… Ada yang membawa rantai…Ada yang melepas ikat pinggang…Suasananya begitu menyeramkan bagi rizki… Tetapi akibat kepanikan yang luar biasa rizki memilih jalan yang salah…Ia mengambil jalan di samping sekolahnya yang menuju persawahan…


Dalam benaknya langsung melintas ketakutan karena ia tahu jalan itu buntu di ujungnya…Ia tidak bisa sembunyi…Dalam hatinya juga ia merasa tak mungkin masuk ke rumah2 warga yang letaknya jarang2…karena lokasi itu memang lokasi persawahan… Ia berpikir keras sambil berlari… Sementara tidak jauh di belakangnya anak2 STM makin beringas mengejarnya… Di depan ia melihat sekelompok rumpun pohon pisang… rizki tahu jika ia bisa melewati dengan lebih cepat rimbunan itu akan menghalangi sejenak pandangan anak2 STM yang mengejarnya… dan ketika akhirnya ia berhasil melewati pohon2 pisang itu ia berhenti sebentar dan berpikir keras… di depannya ada sekitar 4 rumah… di samping kananya tak jauh… ia melihat bagunan rendah dari tembok dan papan… rizki memutuskan.. Ia berlari dan memasuki bangunan rendah itu…


Baru saja tubuhnya masuk…dari dalam terdengar teriakan ketakutan dan panik… Ia terkejut… Antara malu-takut-dan lain-lain… Ternyata bangunan rendah itu adalah kamar mandi… dan nampaknya pada saat itu sedang digunakan oleh yang punya untuk mandi… rizki hendak mundur… tetapi sudut pikirannya yang lain juga membayangkan tubuhnya akan jadi bulan-bulanan senjata2 anak2 STM….


Ia memandangi orang yang mandi itu… Ia heran… Begitu juga orang yang mandi itu heran melihatnya… Seorang wanita paruh baya… Karena takut dan paniknya, dan juga heran, wanita itu lupa bahwa ia telanjang bulat… rizki menyaksikan pemandangan itu… semua berlangsung cepat… Tapi ia tidak bisa berpikir… rizki langsung menerobos masuk kamar mandi itu… Diam di dalamnya berjongkok…


“Bu, maaf, saya sedang dikejar2 anak2 STM…saya hanya mau bersembunyi …maaf bu’! rizki berbisik antara malu dan takut.


Wanita yang mandi itu langsung buru2 mengambil sarungnya dan menutupi tubuhnya yang bugil, tetapi ia tidak keluar`dari kamar mandi tersebut… rizki berdiam diri… Dua menit kemudian ia mendengar… teriakan2 dan suara2 anak2 STM yang mengejarnya…Ada yang terus berlari mengukuti jalan…dan sebagian ada yang berhenti di sekitar empat rumah yang ada di situ… Umpatan2 mereka terdengar kejam…


rizki mendengar beberapa langkah mendekat ke kamar mandi…


“Hei…ngapain…ngapain…mau ngintip orang mandi ya…hei..hoi..hoi..tolong…!” terdengar wanita yang ada di kamar mandi berteriak…


Ia berdiri di depan pintu kamar mandi… Anak2 STM yang tadi hendak mendekat langsung mundur…


“Maaf bu…maaf…siapa yang mau ngintip…kami mencari anak SMA sini yang lari tadi..” kata seorang anak STM itu dengan keras dan kasar.

“Iya. Siapa yang mau ngintip!”yang lain menimpali…


Lalu mereka pergi dan mencari-cari di sekitar empat rumah yang ada di situ… Wanita yang tadi ada di kamar mandi keluar dan menutup pintu kamar mandi… Ia menjemur pakaian yang dicucinya… Kurang lebih setengah jam setelah anak2 STM itu kembali pulang… Ia mengetuk pintu kamar mandi…


“Udah…ayo keluar…anak2 STM itu sudah pulang..”


rizki keluar dari kamar mandi dengan tegang… Ia melihat kiri kanan…


“Sudah…tidak ada lagi…anak2 STM itu sudah pulang dari tadi…masa tidak percaya,”wanita itu berkata.


Dengan gaya malu-kaku-dan menunduk rizki manggut2.


“Terima kasih bu Ima…terima kasih…kalau tidak ada bu Ima saya tidak tahu nasib saya bagaimana..’”kata rizki menunduk.


Wanita itu ternyata adalah Bu Ima, wanita berumur sekira 40 tahun yang membuka warung jajanan persis menempel di pagar sekolah SMA… Dan di warung Bu Ima inilah biasanya anak2 SMA dan juga rizki membeli minuman dan makanan… Dan sekarang rizki tahu bahwa rumah Bu Ima berada di sini…


“Kenapa bisa begitu tadi nak rizki?” Bu Ima bertanya tentang kejadian yang dialami rizki.


rizki lalu menjelaskan secara detil kejadian itu sampai kenapa ia bersembunyi… Ia bercerita panjang lebar… Bi sela-sela cerita Bu Ima mengambil air minum dan bangku panjang… rizki duduk dan melanjutkan ceritanya… Mereka tidak menyinggung bahwa tadi di kamar mandi rizki sempat melihat tubuh bugil Bu Ima… Dan entah mengapa pikiran rizki tidak terlintas dengan kejadian itu ketikas bercerita… Bu Ima juga bercerita tentang keluarganya… Suaminya adalah satpam di sebuag pabrik… Mereka memiliki anak dua orang yang semua dititipkan di kampung orang tua suaminya di Sukabumi…


“Iya sudahlah nak, jangan lagi suka gabung2 dengan anak2 yang suka bolos dan tawuran… ini sudah sore… langsung pulang ke rumah, jangan lagi singgah2..,”kata Bu Ima pada rizki.


Akhirnya rizki pamit dan mengucapkan lagi terima kasihnya pada Bu Ima.


Di warungnya yang biasa dikunjungi anak2 SMA, Bu Ima tidak pernah bercerita tentang kejadian yang dialami rizki. rizkipun menunjukkan sikap yang biasa saja seperti sebelumnya. Tetapi akhir2 ini ada satu hal yang membuat rizki jadi sering merenung dan lalu tersenyum simpul. Ia baru menyadari bahwa ia telah melihat seluruh tubuh bugil Bu Ima. Dan entah mengapa rizki merasa Bu Ima jadi kelihatan seksi setiap hari. Ia sadar bahwa Bu Ima tidak pernah merubah penampilannya dalam menjaga warungnya. Bayangan tubuh bugil Bu Imalah yang membuatnya merasa hari demi hari Bu Ima jadi makin seksi.


Tanpa disadarinya, rizki selalu terangsang setiap kali melihat Bu Ima di warungnya. Ia jadi sering diam-diam mengamati Bu Ima dengan seksama. Wanita berumur 40 tahun, dengan tinggi 165, kulit kuning langsat. rizki merasa wajah Bu Ima setiap hari jadi makin manis. Makin merangsang.


Pernah rizki melirik ke arah dada Bu Ima ketika hendak membayar jajanannya, dan ia menyaksikan bagian atas dada yang putih, membusung, dan belahan dada yang sangat jelas…menantang… Bu Ima pura2 tidak tahu saja perilaku rizki… Makin hari rizki merasa setiap kali melihat Bu Ima di warungnya kontolnya menegang terangsang… Dan kalau sudah begitu ia hanya berdiam diri takut teman2nya atau Bu Ima menyaksikan celana di bagian depannya menonjol…


rizki sering mendengar obrolan2 ringan anak2 sos yang menggoda atau bercanda tentang Bu Ima… Tentang kemolekan tubuh Bu Ima…

rizki semakin sering membayangkan saat ketika ia sejenak melihat tubuh bugil Bu Ima, walaupun yang muncul adalah bayangan samar… Dan perasaanya biasanya langsung kecut karena kejadian itu… Akhirnya rizki melampiaskannya dengan membaca novel2 porno, stensilan, atau nonton film2 blue sambil membayangkan ia menggumuli tubuh sintal Bu Ima… lalu menuntaskan hasratnya di kamar mandi…


rizki pun merasa hari demi hari Bu Ima selalu berbicara lain kepadanya jika ia berada di warung Bu Ima sendirian… Suaranya terasa di buat manis dan seperti membelai perasaanya… dan nafsunya…


Beberapa minggu kemudian terjadi hal yang membuat rizki hampir2 tidak kuat menahan nafsu sexnya…


Pagi itu hujan rintik2… Sesudah pelajaran Fisika, ia diminta guru Fisika ikut ke kantor guru untuk mengambil hasil ulangan minggu lalu untuk dibagikan ke murid2 di kelasnya…


“Eh, kebetulan kamu ada. rizki tolong kamu pesankan ke warung makanan dan minuman,”seorang gur berkata padanya. Ketika itu di kantor memang terdapat beberapa guru yang belum masuk untuk mengajar. Setelah mencatat dalam hati pesanan guru2 yang agak banyak, rizki langsung beranjak keluar….menuju warung Bu Ima…


Sesampai di warung Bu Ima, rizki langsung menyampaikan pesanan guru2nya. Tetapi hanya berselang semenit tiba2 hujan besar langsung turun…. rizkipun hanya duduk2 di bangku panjang warung Bu Ima menunggu hujan reda. Letak warung Bu Ima memang berada di luar halaman sekolah…Tetapi menempel pada pagar sekolah… Hanya ada semacam pintu kecil yang terbuka di pagar yang merupakan penghubung antara halaman sekolah dengan bagian teras warung Bu Ima… Jika rizki memutuskan menembus hujan untuk kembali ke kelas atau ruang guru maka sudah pasti seluruh pakaiannya basah kuyup…


Lima menit kemudian hujan bukannya berhenti tetapi malah makin deras disertai angin kencang… Hal itu membuat pikiran rizki menerawang… Ia memerhatikan Bu Ima yang sedang menyiapkan pesanan guru2nya… Bu Ima memakai semacam pakaian terusan yang berbahan agak mengkilat berwarna hijau… rizki memandangi tubuh Bu Ima yang sedang membelakanginya… Ia melihat pantat Bu Ima yang montok dan pinggul yang besar… seketika nafsu merambatinya… Ia merasa kontolnya berdiri tegang… tenggorokannya terasa jadi kering… Semakin lama ia memperhatikan gerakan2 Bu Ima, rizki semakin terangsang…. Sementara hujan tidak ada tanda2 mau reda….


“Kayaknya bakal lama nih hujan. Bikinkan teh manis bu,” kata rizki bangkit dan mendekat kearah Bu Ima.

“Iya. Lama sepertinya ini. Pesanan guru2 jadi tertunda ini,”kata Bu Ima menimpali. Bu Ima lalu membuat teh manis dan menyodorkannya ke rizki yang berdiri di bagian teras warung. Ketika Bu Ima berjalan ke arahnya, rizki melirik ke arah dada Bu Ima.


Ia melihat bagian dada yang sangat busung itu bergoyang-goyang seiring gerakan tubuh Bu Ima.. rizki makin terangsang… Ia tidak peduli Bu Ima juga melihat lirikannya… Ketika jarak mereka telah dekat, rizki tanpa ragu dan malu melirik ke belahan dada Bu Ima… rizki melihat belahan dada yang sangat seksi, putih, dan ketat terbungkus pakaian… Bu Ima meletakkan teh manis pesanan rizki di meja dekat rizki berdiri… Lalu berbalik lagi ke bagian dalam warungnya… Suasana warung yang sepi membuat pikiran rizki jading makin liar… Ia memandangi tubuh Bu Ima sambil berhayal memeluk dan menggumuli tubuh Bu Ima… Tanpa sadar ia menggerakkan tanganaya mengusap-usap kontolnya dari balik celanaya… rizki merasa tubuhnya saat itu dipenuhi nafsu sex yang besar…


“Nak rizki, kalau bosan nunggu hujan masuk aja ke dalam nonton tivi,”tiba2 Bu Ima memanggil dari dalam warung.


rizki terbangun dari hayalnya, lalu berpikir bagus juga usul Bu Ima sekalian menghilangkan nafsunya yang dari tadi menggerogotinya. Siapa tahu dengan menonton tivi pikiran bisa dialihkan dari hayalan2 yang makin liar, pikir rizki dalam hati. Ia lalu beranjak ke dalam warung… Terkadang sebelum mulai pelajaran, atau ketika istirahat anak murid2 di sekolah itu juga sering mampir ke warung sekedar untuk nonton tivi…


Ketika rizki berjalan memasuki bagian dalam warung sekonyong-konyong Bu Ima juga bergerak ke arah teras…dan mereka berpapasan di pintu yang sempit itu… Dan karena memang tidak mempersiapkan diri, rizki tak bisa mengelak ketika tubuh mereka bergesekan tipis di mulut pintu… rizki sangat kaget karena ia merasa kontolnya yang menegang di dalam celananya bergesakan dengan pinggul Bu Ima…. Ia sontak menariknya, karena terkejut… Tetapi ia melihat Bu Ima terus berjalan ke arah meja seperti tidak terjadi apa2… Sambil berusaha menghilangkan kekagetannya rizki duduk di sofa usang yang ada di depan tivi…


“Ini teh manisnya… jangan ditinggal nanti dimasuki lalat, “ia mendengar suara Bu Ima.


Tak lama Bu Ima sudah sampai di depannya… Ia menunduk meletakkan teh manis di meja depan rizki… Sekali lagi rizki menyaksiakan pemandangan yang menggoda nafsu syahwatnya…apa lagi Bu Ima meletakkan gelas itu perlahan… rizki bisa melihat kain yang menutupi susu besar Bu Ima agak turun dan menyajikan pemandangan yang menggetarkannya… Ia melirik wajah Bu Ima… rizki tertegun ketika mnyadari mata Bu Ima memandang ke arah selangkangannya… Ia terdiam… tenggorokannya kelu…


Dengan termangu ia memandang Bu Ima yang sudah berjalan ke dalam bagain dapur warung…. Pandangan matanya melekat pada pinggul dan pantat Bu Ima…. Nafsunya kembali muncul.. Apalagi ketika menyadri Bu Ima tadi melihat ke arah selangkangannya…


Tanpa disadari, telah hampir sejam rizki di warung Bu Ima. Dan hujan belum ada tanda2 mau berhenti… Ketika ia mendengar suara Bu Ima memanggil dari dalam warung…


“Nak rizki, tolong ke sini sebentar,”terdengar suara Bu Ima memanggil.


rizki beranjak ke arah dapur dan melihat Bu Ima nampkanya sedang kesulitan meraih sesuatu di rak dapur bagian atas…


“Tolong bantu ibu ambil itu,”kata Bu Ima ketika rizki telah berada dalam dapur warung itu. Warung itu tidak begitu terang…


Tetapi cukup untuk dapat melihat apa saja di dalamnya…


“Biar saya sendiri aja bu,”kata rizki.

“Mana bisa. Harus berdua. Berat itu. Karung itu isinya beras jadi agak berat. Harus berdua mengangkatnya,”kata Bu Ima.


rizki mendatangi dan meraih ke karung di rak atas di mana tangan Bu Ima juga sudah ada. Ketika mendekat, rizki merasa nafsunya kembali naik. Mereka berdiri berdua bersisian mencoba menurunkan karung beras. Tetapi karena karung itu memang terisi hampir setengah, agak susah bagi mereka untuk segera menurunkannya. Pikiran rizki makin tidak karuan, karena saat itu tubuh mereka begitu dekat, dan bergesekan setiap kali berusaha mengerahkan tenaga. Bu Ima merapatkan sisi tubuhnya ke tubuh rizki. rizki bisa merasakan setiap lekuk sisi tubuh Bu Ima menempelinya. Membuat nafsunya makin meronta.


“Nah..kita coba sekuat tenaga iya nak…satu-dua-tiga….,”Bu Ima memberi komando.


Mereka sama-sama mengerahkan tenaga. Seketika karung itu terjatuh, tetapi mereka menahannya.


“Letakkan di bawah sama-sama iya,”kembali Bu Ima memberi aba-aba.


Ketika mereka menunduk menurunkan karung itu, rizki melihat sangat jelas belahan buah dada Bu Ima. Begitu juga ketika mereka meletakkannya di lantai. Bu Ima diam saja ketika mata rizki terus meliriki kearah susunya yang besar itu.

“Terima kasih nak iya,”ujar Bu Ima. Telapak tangan Bu Ima bergerak mengusap batang tangan rizki… rizki merasa darahnya mengalir.


Ia tak sanggup berbicara…Sementara Bu Ima tersenyum saja dengan warna wajah yang agak gelap. rizki berdiri pelan… Bu Ima memandanginya… rizki tak lagi peduli pada bagian celana depannya yang menonjol… dan saat itu Bu Ima melirik ke arah tonjolan itu… Ia hanya diam… dan lalu kembali ke depan tivi dengan pikiran tak menentu…


Tak berapa lama, suara Bu Ima membuyarkan pikirannnya..


“Hujan sudah reda nak rizki. Nanti kamu dicariin guru2mu,”ujar Bu Ima dari arah teras.


Lalu rizki beranjak dari depan tivi. Ketika ia hendak melangkah, Bu Ima mendekatinya.


“Terima kasih iya nak rizki, “katanya. Lalu ia mengusap tangan rizki.


Dengan gerakan kaku rizki berjalan ke halaman sekolah lalu menuju ke kelasnya…


Sejak itu setiap malam, dalam kamarnya rizki selalu mengusap-usap selangkangannya sambil membayangkan tubuh Bu Ima…. Di SMA di mana rizki sekolah banyak murid2 perempuan berwajah cantik dan berbody seksi, tetapi tak pernah sekalipun rizki membayangkan mereka… Yang ada dalam benaknya hanyalah Bu Ima…


Semakin hari hasratnya untuk bisa menggumuli tubuh bugil Bu Ima semakin besar saja. Ia tak lagi sembunyi2 melirik ke bagian2 tubuh Bu Ima yang seksi… Dan seperti gayung bersambut Bu Ima juga sering memandangi rizki dengan wajah yang penuh hasrat… Sampai suatu ketika, hari itu hari jumat, ketika sekolah sedang masuk jam istirahat murid2 seperti biasa langsung menyerbu warung Bu Ima… Demikian juga dgn rizki…


Sejak pikirannya dipenuhi oleh bayangan tubuh Bu Ima, rizki selalu yang paling belakangan keluar dari warung daripada murid2 lainnya…. Ia merasa puas bisa leluasa memandangi tubuh Bu Ima walau hanya 1 menit saja… Dan kali ini ketika murid2 lain sudah masuk kelas, rizki masih di warung dan memandangi tuubuh Bu Ima… Ketika itulah Bu Ima mendekatinya…


“Nak rizki, besok mau ga pagi2 ke rumah ibu. Ibu ada masak ayam…enak lho masakan ibu..,”Bu Ima menyapanya.

“Lho, emang besok Bu Ima ga jualan?”tanya rizki.

“Nggak nak…mau istirahat dulu sehari-dua hari!”jawab Bu Ima

“Hhmmm…gimana ya..,”rizki meragu

“Besok ga ada ulangan kan?”Tanya Bu Ima

“Nggak sih..,”

“Sekali2 bolos kan tidak apa2…lagian kata teman2mu kamu anak yang pintar…ibu sengaja lho masak buat kamu…dan…suamiku nanti malam pergi ke Sukabumi melihat anak2…,”


Akhirnya setelah mendengar penjelasan terakhir itu rizki mengangguk,”Oke deh bu!”


“Iya udah…sana masuk ke kelasmu,”kata Bu Ima. Ia menyempatkan diri mendekati rizki dan mengusap tangannya… rizki merasa ingin saat itu bisa langsung menerkam tubuh Bu Ima… rizki lalau beranjak ke kelasnya…


Besoknya sekitar jam sembilan, rizki sudah mengetuk pintu rumah Bu Ima… Tidak ada seorangpun yang melihat rizki memasuki rumah itu…dan ini memang sudah di rancangnya sejak berangkat dari rumah tadi.


“Ayo masuk nak rizki,”sambut Bu Ima.


rizki masuk dan berjalan di belakang Bu Ima. Bu Ima membawa rizki ke ruangan belakang di dekat dapur.


“Duduk nak rizki. Ibu bikin minuman dulu ya,” kata Bu Ima


rizki duduk di sofa usang yang ada di ruangan belakang itu. Ia memandangi bagian belakang tubuh Bu Ima yang hanya beberapa langkah darinya dan sedang menyiapkan minuman. rizki merasa Bu Ima sangat seksi. Bagian bawah tubuh Bu Ima yang padat dan besar itu dililit oleh sarung batik, sementara bagian di atasnya Bu Ima mengenakan semacam baju kebaya… melihat pemandangan itu penis rizki langsung mengeras. rizki langsung berdiri..dan di keremangan ruangan itu…ia dengan gemetar memeluk tubuh Bu Ima dari belakang…


“Bu Ima..,’bisik rizki sangat pelan. Ia melingkarkan tangannnya di pinggul Bu Ima. Ia menempatkan bagian kontolnya yang tegang persis di pantat Bu Ima.


Bu Ima hanya diam. rizki makin bernafsu. Ia menggesek-gesekkan bagian kontolnya ke pantat Bu Ima dan menekan-nekannya. Lalu dengan nafas yang sangat memburu rizki memnciumi leher belakang Bu Ima…Bu Ima diam….ia hanya mengeliat pelan… rizki pun makin bernafsu dan berani…Ia menjilati leher Bu Ima… rizki memindahkan tangannya lalu meraba buah dada Bu Ima yang membusung…


“Mmhh..nak rizki…,”Bu Ima mendengus pelan.


rizki makin liar ketika mendengar dengusan penuh nafsu Bu Ima. Ia memutar tubuh Bu Ima. Menciumi leher bagian depannya…Lalu ke bawah kea rah belahan dada Bu Ima yang ketat tertutup kain. Bu Ima mendenguskan nafas penuh nasfu di telinga rizki.


Karena tak kuat lagi menahan nafsunya, rizki menarik tubuh Bu Ima jatuh ke lantai. Mereka terduduk dilantai. rizki masih menciumi dan menjilati leher putih dan mulus Bu Ima.


“Mmmhh….hah..,”dengus Bu Ima pelan di telinga rizki. Lalu ia meremas rambut rizki dan menariknya.


Bu Ima melihat ke arah mulut rizki dan langsung menciuminya. Ia melingkarkan ke dua tangannya di leher rizki dan melumat bibir rizki dengan liar dan penuh nafsu. rizki pun membalas dengan jilatan yang tak kalah liarnya. Ia menggerayangi susu Bu Ima yang besar… Meremasinya… Remasan2 rizki membuat Bu Ima makin nafsu… Sambil melumat dan mngisapi-isap bibir rizki tangan Bu Ima bergerak menyusup ke dalam baju rizki dan meremas-remas dada rizki. rizki terbuai dibuatnya. rizki menarik tubuh Bu Ima makin rapat ke dalam pelukannya. Tangan rizki lalu bergerak membuka kancing baju kebaya Bu Ima.


Kini Bu Ima hanya memakai BH di bagian atas tubuhnya. Bu Ima lalu melonggarkan bebatan sarungnya, menariknya agak ke atas. Lalu ia bergerak membuka kedua pahanya dan menduduki rizki. Kini selangkangan rizki dan Bu Ima menempel ketat.


“Hhhoohh..,rizki mengerang penuh nafsu.


Bu Ima yang lebih berpengalaman dan sedang dipenuhi nafsu bergerak mempreteli baju rizki. rizki membalasnya dengan menurunkan tali BH Bi Ima. Nafsunya yang tinggi mengajari rizki menurunkan ciumannya ke leher Bu Ima..lalu turun ke bagian atas dada. Menciumi dan menjilati bagian atas dada Bu Ima.


“Ooh..,” Bu Ima mendengus penuh nafsu.


Ketika rizki menurunkan lagi wajahnya, di depannya terpampang susu Bu Ima yang putih, mulus, dan berukuran besar. Ia melihatnya dengan penuh gelora birahi, lalu menengadahkan wajah melihat wajah Bu Ima.


“Hhohh Bu Ima…hhoohh, “erang rizki perlahan, lalu menciumi mulut Bu Ima.


Setelah itu ia menurunkan wajahnya. rizki membuka mulutnya, menciumi dada, dan mengecupi susu Bu Ima. Lalu dengan penuh nafsu rizki membuka mulutnya dan mengisapi-isap puting susu Bu Ima yang berwarna kecoklatan. Mula2 ia mengisapinya dengan lembut dan perlahan. Bu Ima mendengus di telinganya. Ia membusungkan dada dan melihat ke arah susunya yang sedang dihisapi rizki. Ia meremas rambut rizki dan menekan-nekannya ke arah susunya. Tangan rizki bergerak lalu meremasi pangkal susu Bu Ima.


rizki makin bernafsu. Ia menciumi dan menjilati susu Bu Ima. Sementara itu Bu Ima menggoyang-goyangkan pinggulnya. Bu Ima merasakan sensasi ketika vaginanya yang masih terbungkus celana dalamnya bergesekan dengan penis rizki yang juga masih terbungkus celana.


“Hhhhoohhh….mmhhh..hhhaahh..,”Bu Ima mengerang penuh nafsu. Ia terus menggeliat-geliat.

“Hhhoooh rizki…enak banget sedotanmu…hhohh…hisap sayang…ohhh..enak banget…mmmhhhaaahh…enak banget susuku dihisapin begitu sayang….hhhoohh….”

rizki makin bernafsu saja mendengar erangan Bu Ima. Ia makin gencar menjilati, menyedoti, dan melumati susu Bu Ima.

“Hhhhooohh rizki sayang….hhhooohhh…,”Bu Ima mengerang keenakan….

”Mmmhhoooh rizki..hhaahh…hhhuuhh…ooohh…oohh rizki ayo kita ke kamar ibu aja..oohh..,”Bu Ima makin bernafsu digeluti darah muda rizki.


rizki bangkit, ia memangku tubuh Bu Ima dan berjalan kea rah kamar yang ditunjuk Bu Ima…sementara itu mulutnya tidak pernah lepas dari susu Bu Ima..


Sesampai di kamar, rizki meletakkan tubuh Bu Ima di ranjang. Ia dengan liar melepaskan sarung batik Bu Ima. rizkipun akhirnya melihat celana dalam Bu Ima yang membungkus gundukan di selangkangan Bu Ima. Ia menunduk perlahan, memandangi selangkangan Bu Ima. Nafasnya panas dan memburu. rizki mendekatkan mulutnya ke selangkangan Bu Ima. Lalu mengecup pelan celana dalam Bu Ima. Bu Ima mengangkat pantatnya. rizki hanya sebentar mengecup celana dalam itu. Ia lalu memandang wajah Bu Ima, lalu mendekat dan mencium bibir Bu Ima. Bu Ima menyambutnya dan membalas lumatan mulut rizki.


“Hhoohh Bu Ima…tebal banget vaginamu…lebar banget vaginamu..,”

“Aku pengen dientot sekarang Ris…ga tahan lagi….entotin aku rizki…,”

“Hhhoohh….,”rizki makin penuh nafsu karena ucapan Bu Ima.


Ia berdiri membuka seluruh pakaiannya termasuk celana dalamya. Ia kini telanjang bulat. rizki bergerak ke selangkangan Bu Ima, menciumi celana dalam Bu Ima..lalu tangannya bergerak membuka celana dalam Bu Ima…


Akhirnya rizki melihat jembut Bu Ima yang hitam lebat.


“Hhhooo…,”erang rizki lalu mencium vagina Bu Ima. Ia melebarkan paha Bu Ima dengan tangannya. rizki menjulurkan lidahnya.


Lobang vagina Bu Ima yang sudah basah berlendir dijilatinya.


“Nghhaahh…,”erang Bu Ima lirih seperti menangis.”Hhhooohh Ris….ooohhh…enak banget Ris..hhoohh…,”


rizki makin bernafsu. Ia mengulik-ulik lobang vagina Bu Ima dengan lidahnya. Bu Ima merasa keenakan lalu mengangkat pinggulnya. Mulut rizki menempel dengan ketat diselangkangan Bu Ima. Mulut rizki bergerilya dengan liar di liang senggama Bu Ima. Ia memasukkan lidahnya ke lobang vagina Bu Ima, dan menggoyang-goyangkan lidahnya dalam lobang vagina yang berlendir itu.


“Hhhhoooohhhsss…oooohhh…,”Bu Ima mengerang.

”Hhhhooohhh enak banget…hhhooohh…jilatin yang lama say….hhhooo..jilatin vaginaku say….oooohhh Ris…hhooohhh…,”erang Bu Ima.


Karena nafsu birahinya sudah di puncak, Bu Ima menarik kepala rizki dan menciumi mulutnya. Ia melumatnya dengan liar.. Bu Ima lalu menarik tubuh rizki ke tengah-tengah ranjang… rizki bergerak ke tengah ranjang…lalu mulutnya turun lagi ke susu Bu Ima dan menjilati susu Bu Ima dengan penuh nafsu…


Bu Ima memeluk kepala rizki di dadanya,


”Hhhhoohh say…entot aku sekarang Ris.. ibu dah pengen banget ngentot….hhhooohh..,”erang Bu Ima.


Bu Ima menarik rizki ke arahnya. Bu Ima sekarang berbaring telentang sementara rizki masih menunduk menjilati susu Bu Ima.


“Entotin aku sekarang rizki…hhooohh..ibu ga tahan lagi..hhhooo,”


rizki lalu merentangkan kaki, ia memeluk tubuh Bu Ima yang bugil.


“Hhhooo Bu Ima….,”erang rizki penuh nafsu.


Ia lalu menciumi leher Bu Ima, tangan kanannya bergerak ke selangkangannya. Ia mengocok kontolnya sebentar lalu mengarahkan kontolnya ke vagina Bu Ima. Tangan Bu Ima membantu mengarahkan ****** rizki ke lobang vaginanya. Dan ketika Bu Ima merasa kepala penis rizki sudah pas di lobang vaginanya ia mengerang penuh nafsu.


“Entot aku sekarang Ris….”


rizki menekan pantatnya. Perlahan-lahan kontolnya memasuki vagina Bu Ima.


“Nnnggghhhaahh…,”Bu Ima mendesir dan mengerang ketika akhirnya ****** rizki masuk seluruhnya ke dalam lobang vaginanya. “Hhhhoooohhh enak say…pompa aku Ris…genjot say…,”erang2an Bu Ima yang lirih seperti tangisan memenuhi kamar mesum itu. “Hhhooohhh…entotanmu Ris….entoti aku terus Ris..goyang Ris,”


rizki menggenjot tubuh Bu Ima penuh nafsu birahi. Nafasnya panas dan memburu.


“Hhhhooohh…hhhooohhh.,’’erang rizki keenakan. “Hhhoohh Bu Ima,,,,enak sekali vaginamu…oohh enak banget ngentotin vagina Bu Ima…,”


rizki terus menekan-nekankan pantatnya. Kontolnya bergerak liar di lobang vagina Bu Ima. Kontolnya keluar masuk dengan cepat. Bu Ima mengimbanginya dengan memaju-mundurkan pantatnya di kasur. Kadang memutar-mutar pinggulnya. Selangkangan mereka menempel dengan ketat. Gerakan-gerakan titu makin membuat keduanya lupa daratan. rizki dengan penuh nafsu menggumuli tubuh Bu Ima. Menggenjoti tubuh Bu Ima dengan nafsu seksnya yang panas. Bu Ima meremas pantat rizki dan mejadikan pantat rizki sebagai tumpuan tangannya untuk bergoyang memacu tubuh rizki dari bawah. Bu Ima merem melek dibuai nafsu ketika merasakn penis rizki yang tegang, keras, dan panas menusuk-nusuk dalam vaginanya.


“Hhhhoooohhh sayangku rizki….hhoohh…enak sekali entotanmu…enak sekali kontolmu Ris…hhhoohh Ris…ooohhhh Ris…ooohhh genjoti ibu terus..hhhoohh.. kontolmu enak sekali sayang…hhoohh Ris…,”Bu Ima makin mempercepat gerakan pinggulnya.


Ia makin melebarkan pahanya untuk membuat penis rizki menusuk makindalam…


“Hhhhoooohhh entoti vaginaku Ris…hhooohh…hhhooohhh…hhhooohh Ris…genjot say…genjot yang keras..ahhh..Ris..ooohh entot yang keras hhhooohh Ris…ooohhh Ris…,” gerkan pinggul Bu Ima makin liar.


Ia merasa nafsunya makin mendekati puncak. Ia mencengkeram keras pantat rizki. Dan meliuk-liukkan pantanya. Ini membuat rizki merem-melek. Nafsunya makin berkobar. Ia menekan-nekan pantatnya makin keras. Ia mencengkeram kasur dan menghujamkan kontolnya dalam-dalam..


“Hhhhooohh Bu Ima…hhhooohhh…..,”rizki mengerang…

“Ohhh..hhhhoohh…oohh sayangku Bu Ima…aku mau keluar…ohhh…,”erang rizki sambil menghujam-hujamkan kotolnya dalam vagina Bu Ima dengan keras. Bu Ima juga makin liar.

“Terus say….aku juga mau keluar…oooohhh…ooooo Ris….ooo….,”tiba2 suara Bu Ima menghilang tertahan.


Seketika tubuhnya seperti kejang-kejang. Gerakan pinggulnya sangat liar… Bu Ima membusungkan dada dan menegadahkan wajah ke atas….Seiring itu vagina Bu Ima menyemprotkan mani yang sangat banyak….


rizki merasakan semprotan mani Bu Ima bersamaan dengan tubuh Bu Ima yang mengejang. Hanya berselang satu lima detik…rizki pun menghujamkan kontolnya kuat2, keras, dan sangat dalam di dalam vagina Bu Ima.


“Hhhooohhh Bu Ima…hhhooohh….,’’rizki mengerang. Ia menekan pinggulnya. Tubuh rizki pun mengejang.



Bersamaan dengan itu kontolnya memyemprotkan mani dalam vagina Bu Ima sangat banyak. Semprotan itu berkali-kali membuat Bu Ima meraih kepala rizki dan seperti orang kehausan menciumi mulut rizki dengan rakus. Selangkangan rizki dan Bu Ima menempel dengan ketat dan kuat. Bergerak mengejang bersamaan seiring penuntasan nafsu syahwat yang memuncak. Batang penis rizki berdenyut-denyut mengejang dalam lobang vagina Bu Ima… Lobang vagina Bu Ima juga berdenyut-denyut menyedot-mengisap-menarik2-dan memijat-mijat batang penis rizki.


“Ohhh rizki….,’desah Bu Ima disela lumatannya pada mulut rizki.

“Hhhoooh Bu Ima sayang..”rizki juga mengerang.


Gerakan2 kejang itu berlangsung 2 menit… mulut mereka masih saling berebutan menjilat dan mencium. Lidah Bu Ima dan rizki mencuat, meraih, memilin, menjilat, dan melahap.


Mereka berdua tertidur. rizki baru terbangun siang harinya. Ketika itu Bu Ima sedang memelukinya. Mulut Bu Ima menempel pada dadanya menciumi dan menyedot putting susunya yang mungil. Sementara tangan kanan Bu Ima memijat dan meremasi penis rizki yang sudah keras dan tegang.



“Oh rizki, enak banget tadi dientot sama kamu…,”Bu Ima bergerak mencium mulut rizki. Tangannya terus meremas lembut penis rizki.

“Aku juga merasa enak Bu Ima. Vagina Bu Ima tebal dan empuk. Enak dientotin. Aku juga suka susu Bu Ima yang besar..,”kata rizki sambil menggerakkan tangannya meremas puting susu Bu Ima.

“Aku mau sering2 dientot ama kamu. Hhhmmmhhh….kontolmu besar dan panjang…aku suka…enak banget kontolmu pas menusuk-nusuk vaginaku..hhhoohhhhmmmmhh..’”Bu Ima kembali melumat bibir rizki.


Mereka kembali berciuman dengan ganas, panas, dan liar. Saling membelit dan menggumuli. Sejak itu Bu Ima dan rizki sering mencuri-curi kesemapatn untuk saling menuntaskan birahi mereka yang mesum dan panas.

Cerita Dewasa Seru | Montoknya Ibu Guruku





Perkenalkan namaku Priambudhy Saktiaji, teman-teman memanggilku Budhy. Aku tinggal di Bogor, sebelah selatan Jakarta. Tinggiku sekitar 167 cm, bentuk wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman- teman perempuanku bilang. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku ‘make love’ (ML) atau bercinta dengan seorang wanita. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA (sekarang SMU). Saat itu sedang musim ujian, sehingga kami di awasi oleh guru2 dari kelas yang lain. Kebetulan yang mendapat bagian mengawasi kelas tempatku ujian adalah seorang guru yang bernama Ibu Netty, umurnya masih cukup muda, sekitar 25 tahunan.

Cerita Dewasa Seru || Tinggi badannya sekitar 155 cm. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya oval dengan rambut hitam lurus yang di potong pendek sebatas leher, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Yang membuatku sangat tertarik adalah tonjolan dua bukit payudaranya yang cukup besar, bokongnya yang sexy dan bergoyang pada saat dia berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang tajam, ke arah meja yang didudukinya. Kadang, entah sengaja atau tidak, dia balas menatapku sambil tersenyum kecil. Hal itu membuatku berdebar-debar tidak menentu. Bahkan pada kesempatan lain, sambil menatapku dan memasang senyumnya, dia dengan sengaja menyilangkan kakinya, sehingga menampakkan paha dan betisnya yang mulus.

Cerita Dewasa Hot || Di waktu yang lain dia bahkan sengaja menarik roknya yang sudah pendek (di atas lutut, dengan belahan disamping), sambil memandangi wajahku, sehingga aku bisa melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya. Terlihat gundukan kecil di tengah, dia memakai celana dalam berbahan katun berwarna putih. Aku agak terkejut dan sedikit melotot dengan ‘show’ yang sedang dilakukannya. Aku memandang sekelilingku, memastikan apa ada teman-temanku yang lain yang juga melihat pada pertunjukan kecil tersebut.

Ternyata mereka semua sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian dengan serius. Aku kembali memandang ke arah Ibu Netty, dia masih memandangku sambil tersenyum nakal. Aku membalas senyumannya sambil mengacungkan jempolku, kemudian aku teruskan mengerjakan soal-soal ujian di mejaku.

Tentu saja dengan sekali-kali melihat ke arah meja Ibu Netty yang masih setia menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali, sedemikian rupa, sehingga memperlihatkan dengan jelas selangkangannya yang indah. Sekitar 30 menit sebelum waktu ujian berakhir, aku bangkit dan berjalan ke depan untuk menyerahkan kertas-kertas ujianku kepada Ibu Netty. “Sudah selasai?” katanya sambil tersenyum. “Sudah, bu….” jawabku sambil membalas senyumnya. “Kamu suka dengan yang kamu lihat tadi?” dia bertanya mengagetkanku. Aku menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua pembicaraan dengan berbisik-bisik. “Apa saya boleh melihatnya lagi nanti?” kataku memberanikan diri, masih dengan berbisik. “Kita ketemu nanti di depan sekolah, setelah ujian hari ini selesai, ok?” katanya sambil tersenyum simpul.

Senyum yang menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku jadi panas dingin. Siang itu di depan gerbang sekolah, sambil menenteng tasnya, bu Netty mendekati tempatku berdiri dan berkata, “Bud, kamu ikuti saya dari belakang” Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah jauh dari lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Kami berjalan beriringan. “Kamu benar-benar ingin melihat lagi?” tanyanya memecah kesunyian. “Lihat apa bu?” jawabku berpura-pura lupa, pada permintaanku sendiri sewaktu di kelas tadi pagi. “Ah, kamu, suka pura- pura…” Katanya sambil mencubit pinggangku pelan.

Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku pegang telapak tangannya yang halus dan meremasnya dengan gemas. bu Netty balas meremas tanganku, sambil memandangiku lekat-lekat. Akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, agak jauh dari rumah-rumah lain. Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut. Bu Netty membuka tasnya, mengeluarkan kunci dan membuka pintu. “Bud, masuklah. Lepas sepatumu di dalam, tutup dan kunci kembali pintunya!” Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya tanpa banyak bertanya.

Begitu sampai di dalam rumah, bu Netty menaruh tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Aku hanya melihat, ketika dengan santainya dia melepaskan kancing bajunya, sehingga memperlihatkan BH- nya yang juga terbuat dari bahan katun berwarna putih, buah dadanya yang putih dan agak besar seperti tidak tertampung dan mencuat keluar dari BH tersebut, membuatnya semakin sexy, kemudian dia memanggilku. “Bud, tolong dong, lepasin pengaitnya…” katanya sambil membelakangiku. Aku buka pengait tali BH-nya, dengan wajah panas dan hati berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil sebuah kaos T-shirt berwarna putih, kemudian memakainya, masih dengan posisi membelakangiku.

T-shirt tersebut terlihat sangat ketat membungkus tubuhnya yang wangi. Kemudian dia kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan risleting roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang paling parah, aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku berontak di dalam celana dalam yang rangkap dengan celana panjang SMA ku. Ketika dia membelakangiku, dengan cepat aku memperbaiki posisi kemaluanku dari luar celana agar tidak terjepit. Kemudian aku buka risleting rok ketatnya.

Dengan perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan celana dalam putihnya, tanganku meraba pantat bu Netty dan sedikit meremasnya, gemas. “Udah nggak sabar ya, Bud?” Kata bu Netty. “Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes saya….” “Kalo di sini jangan panggil saya ‘bu’ lagi, panggil ‘teteh’ aja ya?” “Iya bu, eh, teh Netty” Konsentrasiku buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, bu Netty dengan kaos T-shirt yang ketat, tanpa BH, sehingga puting susunya mencuat dari balik kaos putihnya, pusarnya yang sexy tidak tertutup, karena ukuran kaos T-shirt-nya yang pendek, celana dalam yang tadi pagi aku lihat dari jauh sekarang aku bisa lihat dengan jelas, gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi. “Gimana Bud, suka nggak kamu?” Katanya sambil berkcak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya. “Kok kamu jadi bengong, Bud?” Lanjutnya sambil menghampiriku.

Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya. “Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh….” Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya, kuremas- remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. “Mmmmhhhh….mmmmmhhhhh” Kali ini dia merintih nikmat.

Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-shirtnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya, kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing- masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu.

Aku melepas pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas bajuku, kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan celana panjang abu-abuku dan celana dalam putihku sekaligus. Bu Netty pun melakukan hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T- shirtnya yang baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putihnya, sehingga sekarang dia sudah telanjang bulat. Tubuhnya yang putih mulus dan sexy sangat menggiurkan. Hampir bersamaan kami selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku menegakkan tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak.

Aku terpaku melihat tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering melihat tubuh telanjang, tetapi secara langsung dan berhadap-hapan baru kali itu aku mengalaminya. Payudaranya yang sudah mengeras tampak kencang, ukurannya melebihi telapak tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas seluruh bulatan itu, tapi tidak pernah berhasil, karena ukurannya yang cukup besar. Perutnya rata tidak tampak ada bagian yang berlemak sedikitpun. Pinggangnya ramping dan membulat sangat sexy.

Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu yang sengaja tidak dicukur, hanya tumbuh sedikit di atas kemaluannya yang mengkilap karena basah. Tubuh telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari gambar-gambar porno, blue film atau paling nyata tubuh ABG tetanggaku yang aku intip kamarnya, sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan cepat-cepat karena takut ketahuan. Kebiasaan mengintipku tidak berlangsung lama karena pada dasarnya aku tidak suka mengintip.

Sementara bu Netty memandang lekat kemaluanku yang sudah tegang dan mengeras, pangkalnya di tumbuhi bulu- bulu kasar, bahkan ada banyak bulu yang tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan panjangnya belasan centi. “Bud, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada bulunya lagi di batangnya” katanya sambil menghampiriku. Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih kemaluanku, sambil berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil mengocok-ngocoknya lembut dan berikutnya kepala kemaluanku sudah dikulumnya.

Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti itu. “Oooohhhh…. enak teh….” rintihku pelan. Dia semakin bersemangat dengan kuluman dan kocokan-kocokannya pada kemaluanku, sementara aku semakin blingsatan akibat perbuatannya itu. Kadang dimasukkannya kemaluanku sampai ke dalam tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, sehingga kemaluanku keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus. Aku semakin tidak tahan dan akhirnya…, jebol juga pertahananku.

Spermaku menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia sedot dan dia telan, sehingga tidak ada satu tetespun yang menetes ke lantai, memberiku sensasi yang luar biasa. Rasanya jauh lebih nikmat daripada waktu aku masturbasi. “Aaaahhhh… ooooohhhhh…. teteeeeehhhhh!” Teriakku tak tertahankan lagi. “Gimana? enak Bud?” Tanyanya setelah dia sedot tetesan terakhir dari kemaluanku. “Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri” jawabku puas. “Gantian dong teh, saya pengen ngerasain punya teteh” lanjutku sedikit memohon. “Boleh…,” katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan dirinya di atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai.

Aku langsung berlutut di depannya, kuciumi selangkangannya dengan bibirku, tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan kupilin-pilin pelan puting payudaranya yang sudah mengeras. Dia mulai mengeluarkan rintihan-rintihan perlahan. Sementara mulutku menghisap, memilin, menjilat vaginanya yang semakin lama semakin basah. Aku permainkan clitorisnya dengan lidahku dan ku emut-emut dengan bibirku. “Aaaaaahhhhh… ooooohhhhhh, Buuuuddddhyyyyy…, aku sudah tidak tahan, aaaaauuuuuhhhhhh!” Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit kuatir kalau ada tetangganya yang mendengar rintihan-rintihan nikmat tersebut.

Tetapi karena aku juga didera nafsu, sehingga akhirnya aku tidak terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan tubuhnya mengejang, kemudian aku merasakan semburan cairan hangat di mulutku, aku hisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus, tetes demi tetes. Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya mengapit kepalaku dengan ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya lebih lekat lagi menempel di selangkangannya, membuatku sulit bernafas. Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua payudaranya kini meremas-remas dan mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku. “Bud, kamu hebat, bikin aku orgasme sampai kelojotan begini, belajar darimana?” Tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku memang banyak membaca tentang hubungan sexual, dari majalah, buku dan internet.

Sementara itu kemaluanku sudah sejak tadi menegang lagi karena terangsang dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Netty. Akupun berdiri, memposisikan kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih berkedut dan tampak basah serta licin itu. “Aku masukin ya teh?” Tanyaku, tanpa menunggu jawaban darinya, aku melumat bibirnya yang merekah menanti kedatangan bibirku. “Oooohhhh…” rintihnya, “Aaaahhhh…” kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika kemaluanku menembus masuk ke dalam vaginanya, hilanglah keperjakaanku. Kenikmatan tiada tara aku rasakan, ketika batang kemaluanku masuk seluruhnya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke pangkalnya.

Bu Netty merintih semakin kencang ketika bulu kemaluanku yang tumbuh di batang kemaluanku menggesek bibir vagina dan clitorisnya, matanya setengah terpejam mulutnya menganga, nafasnya mulai tersenggal- senggal. “Ahh-ahh-ahh auuuu!” Kutarik lagi kemaluanku perlahan, sampai kepalanya hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan, sementara rintihannya selalu di tambah teriakan kecil, setiap kali pangkal batang kemaluanku menghantam bibir vagina dan clitorisnya. Gerakanku semakin lama semakin cepat, bibirku bergantian antara melumat bibirnya, atau menghisap puting payudaranya kiri dan kanan.

Teriakan-teriakannya semakin menggila, kepalanya dia tolehkan kekiri dan kekanan membuatku hanya bisa menghisap puting payudaranya saja, tidak bisa lagi melumat bibirnya yang sexy. Sementara itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang kini sudah sangat basah, sampai akhirnya, “Buuudddhhyyyyyy…. aku mau keluar lagiiiiii… oooohhhhhh… aaahhhhh” teriakannya semakin kacau. Aku memperhatikan dengan puas, saat dia mengejan seperti menahan sesuatu, vaginanya kembali banjir seperti saat dia orgasme di mulutku. Aku memang sengaja mengontrol diriku untuk tidak orgasme, hal ini aku pelajari dengan seksama, walaupun aku belum pernah melakukan ML sebelum itu.

Bu Netty sendiri heran dengan kemampuan kontrol diriku. Setelah dia melambung dengan orgasme-orgasmenya yang susul- menyusul, aku cabut kemaluanku yang masih perkasa dan keras. Aku memberinya waktu beberapa saat untuk mengatur nafasnya. Kemudian aku memintanya menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali kami tenggelam dalam permainan yang panas.

Sekali lagi aku membuatnya mendapatkan orgasme yang berkepanjangan seakan tiada habisnya, aku sendiri karena sudah cukup lelah, kupercepat gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan. Akhirnya menyemburlah spermaku, yang sejak tadi aku tahan, saking lemasnya dia dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan diriku berbaring di sebelahnya.